Separuh Abad PB Djarum Kudus

Rabu, 08 Mei 2019 16:07:54

 

Majalahbulutangkis.com- Kudus tidak hanya dikenal dengan kuliner-kuliner uniknya seperti jenang, lentog, pindang kerbau, soto khas dengan campuran daging kerbau, garang asem, dan banyak lainnya.

Tetapi kota yang berada di jalur pantai timur laut Jawa Tengah ini juga sejak lama dikenal sebagai gudangnya atlet-atlet bulutangkis bertalenta hebat. Kesuksesan para atlet itu tak lepas dari nama besar Perkumpulan Bulutangkis Djarum, klub bulutangkis yang bermarkas di kota kretek itu. Tidak terasa sudah 50 tahun PB Djarum berkiprah sejak pertama kali berdiri pada 28 April 1969.

Adalah serangkai Robert Budi Hartono, Goei Poo Thay, Bambang Hartono, Margono dan Thomas Budi Santoso dengan hobi sama, bermain olahraga tepok bulu, yang kemudian bersepakat mendirikan klub bulutangkis di lingkungan pabrik rokok Djarum milik keluarga Budi.

Pendirian klub itu bukan tanpa alasan lantaran Budi Hartono begitu menyukai permainan bulutangkis. Ia kerap mengajak para karyawannya bermain dan berlatih bulutangkis di salah satu

Tak jarang pula Budi menenteng sendiri genset ke lokasi gedung latihan karena ia tahu saat itu Kota Kudus masih kesulitan penerangan karena minimnya sarana kelistrikan.

 "Semula karyawan Djarum bermain bulutangkis untuk kebugaran semata. Kami tidak pernah membuatkan program latihan atau program khusus. Semua mengalir saja," begitu kata Budi seperti dituliskannya dalam buku "Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia” yang digarap tim penulis dari situs berita sejarah, historia,id.

Buku buah karya sejarawan Bonnie Triyana tadi melengkapi kehadiran tiga buku lainnya yang masing-masing ditulis oleh jurnalis senior Daryadi ("KiprahAhsan-Hendra", dan "Jejak Langkah Owi-Butet"), serta mantan Menteri Hukum dan HAM sekaligus Dewan Penasehat PB PBSI, Hamid Awalamudin ("Butet Legenda Sejati").

Keempat buku ini merupakan kado yang diberikan Djarum Foundation bagi peringatan separuh abad lahirnya PB Djarum, yang kini menjelma sebagai klub terbaik di dunia.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin mengatakan, peluncuran empat buku sekaligus ini sebagai upaya pihaknya mendokumentasikan perjalanan sejarah bulutangkis Indonesia dengan segenap prestasinya.

"Di dalamnya ada berbagai catatan sejarah perjalanan dan kerja keras untuk mewujudkan prestasi bagi Indonesia melalui bulutangkis. Kami berharap, dalam rangkaian HUT ke 50 PB Djarum, keempat buku ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi para atlet, pelatih, dan masyarakat," kata Yoppy ketika membuka acara peluncuran buku di Kudus, Minggu (28/4).

Hamid Awaludin, mantan Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia mengatakan bahwa ia sengaja menulis sendiri kisah inspiratif dari seorang Liliyana Natsir, anak muda asal Manado, Sulawesi Utara yang telah merantau ke ibu kota Jakarta demi mengejar cita-cita sebagai pemain bulutangkis terkenal, sebuah mimpi yang berhasil digapai oleh Butet, sapaannya.

"Butet adalah contoh atlet yang tidak gampang menyerah. Ia sudah mengejar mimpinya bahkan sejak masih berumur 12 tahun, merantau dari Manado ke Jakarta," tutur Hamid saat menceritakan proses pembuatan buku bagi Butet.

Hamid menyebut Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir adalah duet yang paling ditakuti lawan. Smes keras Owi, begitu pemuda kelahiran Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. berpadu dengan kegarangan Butet di depan net dalam menempatkan shuttlecock di areal yang sulit dijangkau lawan. "Pasangan ini adalah wujud padu-padan dalam arti yang sebenar-benarnya dari wajah asli Indonesia," kata Hamid.

Sedangkan Daryadi yang diserahi tanggung jawab untuk menuntaskan dua buku sekaligus menceritakan kepada para wartawan yang hadir, sejumlah tantangan yang harus ia hadapi dengan waktu yang sempit untuk bisa menuntaskannya sebelum HUT 50 Tahun PB Djarum.

"Ketika saya menerima tanggung jawab membuat buku ini, saya juga sedang disibukkan dengan sejumlah agenda. Bersyukur saya terbantu oleh kemajuan teknologi karena ternyata para atlet yang kami tuliskan kisahnya ini juga memiliki jadwal bertanding dan berlatih yang sangat padat. Kami juga banyak terbantu oleh keluarga para atlet, terutama orangtua mereka yang begitu kooperatif bercerita dan memberikan foto memorabilia masa kecil anak-anak mereka," kata pemimpin redaksi majalah Bulutangkis Indonesia ini. 

Daryadi yang juga komentator bulutangkis di stasiun televisi nasional ini bercerita, bahwa kisah para pemain yang ia rangkum di dalam dua buku bisa menjadi inspirasi bagi para pemain muda, bibit-bibit muda di seluruh Tanah Air. Prestasi-prestasi yang diukir Owi dan Butet, begitu juga dengan Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan diperoleh dari sebuah proses panjang, kerja keras, latihan tanpa henti dan memiliki mental juara. 

Sedangkan Bonnie Triyana selaku penulis buku "Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia”, kepada majalah Bulutangkis Indonesia menceritakan, pihaknya melakukan riset selama beberapa bulan, termasuk untuk menyiapkan foto-foto dokumentasi latihan para karyawan di salah satu bangunan pabrik Djarum di brak Bitingan Lama. "Kami juga diminta pihak Djarum untuk membuatkan film dokumenter perjalanan PB Djarum," katanya.

Acara HUT 50 tahun PB Djarum yang telah menelurkan 5.000 atlet ini tidak hanya sebatas peluncuran empat buku saja, tetapi juga digelar secara meriah pada malam harinya di pusat pelatihan bulutangkis GOR PB Djarum di Jati.

Sebuah tenda putih memanjang sekitar 100 meter didirikan di halaman depan GOR Djarum Jati. Di dalam tenda telah tersaji belasan jenis kuliner khas Kota Kudus yang menggugah selera menunggu untuk disantap secara gratis. Tak ketinggalan juga dibangun sebuah panggung terbuka yang di sekitarnya diisi oleh tak kurang dari 30 meja kursi bagi para tamu.

Puncak acara di GOR Djarum Jati itu semakin meriah karena kehadiran para legenda bulutangkis Indonesia yang pernah dimiliki oleh PB Djarum dengan prestasi mendunia seperti pasangan Alan Budikusuma dan Susy Susanti, Christian Hadinata, Hariyanto Arbi, Lius Pongoh, Minarti Timur, Hendrawan, Hastomo Arbi, Hermawan Susanto, Yuni Kartika, Eddy Hartono, Zelin Resiana, Sigit Budiarto, Fung Permadi dan masih banyak lainnya. Tentu saja hadir pula Butet dan Owi.

PB Djarum juga memberikan penghargaan liontin emas kepada 28 tokoh yang telah berjasa bagi perkembangan PB Djarum. Dibagikan pula pin emas kepada para legenda bulutangkis Djarum yang pernah mengharumkan Indonesia di tingkat olimpiade, kejuaraan dunia, All England, dan Asian Games dan SEA Games. PB Djarum juga secara khusus membagikan bonus kepada atlet paragames Indonesia di cabang bulutangkis.

Mengenang awal mendirikan PB Djarum, 50 tahun lampau, Pendiri PB Djarum Robert Budi Hartono menuturkan alasannya membangun klub bulutangkis di Kudus.

“Kita waktu itu sudah melihat bahwa Indonesia paling menonjol di bulutangkis. Saya pikir kenapa tidak kalau kita bisa menyumbangkan sesuatu untuk Indonesia melalui bulutangkis, kebanggaan nasional, menggalang persatuan,” kenang Robert Budi Hartono.

Ada sebuah fragmen menarik diceritakan Robert Budi Hartono tentang air mata yang turut mewarnai periode awal berdirinya PB Djarum. Sekitar tahun 1971, dalam sebuah kejuaraan lokal di Kudus, Budi Hartono melihat seorang lelaki muda berusia 15 tahun menangis di anak tangga pojokan gedung. Lelaki muda itu menangis karena baru saja kalah bertanding.

Kepadanya, Budi Hartono memberikan nasehat agar tak putus asa. Bahkan ia juga menawarkan lelaki muda ini untuk ikut bergabung dan berlatih di PB Djarum.

Di kemudian hari,  sosok anak muda berlinang air mata bernama Liem Swie King itu menjelma menjadi legenda bulutangkis Indonesia dengan sederet prestasi dunia. 

Budi Hartono berharap kisah air mata King ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para atlet saat ini agar tidak pernah menyerah berjuang dan berlatih keras demi meraih prestasi.

Sementara itu, di hadapan para legenda dan alumni PB Djarum, Presiden Direktur Djarum Foundation Victor R Hartono, mengatakan usia 50 tahun PB Djarum hanyalah permulaan. Ia berharap kiprah PB Djarum bisa melampaui 100 tahun atau bahkan lebih sehingga bisa semakin mengharumkan Indonesia di mata dunia.

“PB Djarum akan tetap eksis selama kita yakin dan bertekad kuat untuk membantu menyatukan Indonesia. Ini sesuai dengan itikad besar PB Djarum: membantu kejayaan sport untuk persatuan Indonesia. Kita tak bisa bersatu dalam kesengsaraan sport, tapi kita bisa bersatu dalam kejayaan sport,” ujar Victor. (Anton Setiawan)

Kredit foto: Edo Luhukay

« Back to News