ISTC Camp Bulutangkis Bernuansa Resort

Kamis, 16 Nov 2017 00:46:39

Dari namanya orang tentu sudah tahu siapa pemilik dari Icuk Sugiarto Training Camp (ISTC). Tak seperti biasanya, pusat-pusat pembinaan bulutangkis

yang berada di daerah perkotaan atau lingkungan padat penduduk, ISTC justru dibangun di sebuah tempat yang jauh dari keramaian.

Sang penggagas sekaligus pemilik, Icuk Sugiarto, yang tak lain adalah salah satu legenda bulutangkis Indonesia ini memilih lokasi di Desa

Kadudampit, Situgunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, sebagai tempat membangun camp kepelatihan bulutangkis.

"Kebetulan saya ada tabungan tanah yang sudah saya beli sejak lama. Jadi saya manfaatkan untuk membangun camp bulutangkis," jelas Icuk saat

disambangi Majalah Bulutangkis Indonesia, awal Mei lalu.

Dari lahan seluas 3 hektar yang dimilikinya memang tak seluruhnya dipakai untuk membangun gedung bulutangkis, yakni hanya sekitar 3.000 meter.

Selebihnya ia juga membangun sarana penginapan yang menyediakan sebanyak 40 kamar. Tak heran, mengunjungi ISTC terasa tengah mengunjungi sebuah

resort yang biasa dipakai sebagai tempat berlibur.

Suasana alamnya memang sangat menunjang. Udara yang dingin karena berada di kaki Gunung Gede serta aliran sungai dengan air yang dingin dan jernih

membuat siapapun yang berkunjung betah berlama-lama berada di ISTC yang mulai diresmikan oleh Menpora Imam Nahrawi pada 6 Desember 2015 lalu ini.

Beberapa tahun silam Icuk Sugiarto memang pernah dikenal membina klub bulutangkis Pelita Bakrie dengan mengambil lokasi tempat latihan di daerah

Duri Kosambi, Jakarta Barat. Namun, ketika dari pihak Aburizal Bakrie yang selama sekian tahun menyokong klub ini tak lagi memberikan bantuannya,

Icuk pun memindahkan pusat pelatihannya ke Sukabumi.

"Selain itu sarana tempat kami berlatih di Duri Kosambi sudah habis sewanya dan akan dipakai sebagai gudang PLN. Karena itu kami memutuskan pindah

ke tempat sendiri di Sukabumi. Alhamdulillah di sini bisa jauh lebih tenang dan tidak perlu memikirkan biaya sewa karena milik sendiri," terang ayah

dari dua pebulutangkis nasional Tommy Sugiarto dan Jauza Fadillah Sugiarto ini.

Dari sekian banyak muridnya di Duri Kosambi, Icuk memang tidak membawa seluruhnya. Ia hanya memilih 12 anak yang dinilai memiliki potensi untuk

berkembang menjadi pemain yang bisa bersaing di level nasional dan internasional. Mereka rata-rata masih di usia remaja hingga taruna. Kendati

begitu, Icuk tak menutup peluang kepada pemain-pemain lain untuk ikut bergabung di ISTC.

Apriani Rahayu adalah salah satu pemain asal Kendari hasil binaan PB.Pelita Bakrie yang belajar dari tingkat remaja hingga akhirnya masuk tim Indonesia di ajang Piala Sudirman 2017 lalu.

"ISTC terbuka bagi siapa saja yang mau berlatih di sini. Bagi atlet-atlet yang berprestasi minimal bisa sampai semifinal di Sirkuit Nasional kami akan gratiskan. Tapi, untuk atlet-atlet yang baru mulai belajar atau belum berprestasi tentu dikenai biaya pelatihan," jelas Icuk.

Juara Dunia 1983 ini malah mengundang atlet-atlet bulutangkis dari seluruh Indonesia yang ingin menjalani pelatihan dalam rangka persiapan suatu

event seperti Porda atau Porprov untuk menggunakan sarana di ISTC. Sejauh ini dari beberapa daerah memang sudah mengirimkan atlet bulutangkisnya

berlatih di ISTC, rata-rata dengan durasi rata-rata dua pekan.

"Soal biaya saya tidak pernah mempermasalahkan. Silahkan menyesuaikan saja dengan biaya yang dikeluarkan jika mereka mengadakan pelatda di daerah

masing-masing. Jadi, mereka tidak perlu khawatir biayanya akan membengkak bila menjalani pelatda di ISTC," tegas Icuk lagi.

Keuntungan yang didapat bila menjalani pelatda di ISTC, selain bisa lebih fokus juga tersedia pelatih serta lawan berlatih tanding yang berkualitas.

Yang menarik, ISTC pun juga dibuka untuk masyarakat umum yang ingin berlibur sambil menyalurkan hobi bermain bulutangkis. Untuk itu ITSC mengenakan tarif sebesar Rp 350 ribu per kamar untuk dua orang. Biaya itu sudah termasuk makan sehari tiga kali serta bermain bulutangkis sepuasnya di camp ITSC yang memiliki sarana lima lapangan.

Ke depan ISTC juga mulai mempertimbangkan untuk membidik pangsa internasional. Terutama bagi pemain-pemain bulutangkis Eropa yang biasanya di musim dingin kesulitan untuk berlatih, bisa menggunakan sarana di ISTC.

"Yang pasti, saya ingin ISTC mampu memberikan manfaat bagi siapa saja yang ingin berlatih bulutangkis atau sekadar berlibur sambil berolahraga bulutangkis," tutup Icuk.

 

« Back to News