Kharisma All England
Senin, 09 April 2018 19:31:32
Pentas bulutangkis All England secara tingkatan atau level sejatinya setara dengan Indonesia Open, China Open, atau Denmark Open. Seluruhnya sama-sama berlevel Superseries Premier atau dengan istilah baru saat ini BWF World Tour Super 1000.
Tapi, mengapa All England seperti mendapat tempat yang berbeda? Mereka yang berhasil menjadi juara di event ini pun selalu mendapat perlakuan yang istimewa.
Simak saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memenangkan All England 2018, Maret lalu. Tiba di Bandara Soekarno Hatta, sejumlah petinggi pun merasa perlu menjemput sang pahlawan bulutangkis. Mulai dari Ketua Umum PBSI Wiranto, Menpora Imam Nahrawi, hingga CDM Asian Games 2018 Irjen Pol Syafrudin yang juga Wakapolri.
Bonus masing-masing Rp 250 juta dari Kemenpora pun langsung diterima Kevin/Marcus. Tak lama berselang, PB.Djarum selaku klub pembina Kevin pun kembali mengucurkan bonus.
Itulah istimewanya seorang juara All England. Satu hal yang berbanding terbalik ketika seorang pemain menjuarai turnamen Indonesia Open, China Open, atau Denmark Open.
Suka atau tidak suka, All England memang memiliki kharisma yang berbeda dibanding turnamen-turnamen lain. Inilah turnamen tertua yang pertama kali diselenggarakan pada 4 April 1899 dan masih tetap eksis hingga saat ini.
Umur All England nyaris setara dengan turnamen tenis Grand Slam Wimbledon yang juga digelar di Inggris. Mereka yang pernah juara di dua event ini selalu mendapat tempat yang istimewa di hati penggemarnya.
Simak aksi legenda Indonesia, Rudy Hartono. Meski sudah banyak meraih gelar juara di berbagai event namun yang selalu diingat adalah saat ia mencatat rekor delapan kali juara di All England. Tak heran, menjadi juara di manapun seakan kurang lengkap tanpa gelar All England. Ibarat sayur kurang garam, kuah pun jadi terasa hambar.
Bintang Tiongkok, Lin Dan yang pernah enam kali juara di All England masih tetap ngotot ingin menoreh sejarah baru di event ini. Namun, dari 10 kali kesempatan lolos ke final hanya enam kali yang membuahkan gelar juara. Peluang terakhir di All England 2018 gagal diraih usai kalah dari yuniornya Shi Yuqi babak final. Lin Dan pun pasrah jika tahun depan sudah tak bisa lagi menyambangi All England.
Demikian besarnya kharisma All England hingga memunculkan mitos, tak sembarang pemain bisa berjaya di sini. Pemain-pemain dengan reputasi juara Olimpiade pun tak selalu mujur saat tampil di All England. Sebut juara Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma, nyaris selalu sial saat tampil di All England. Pun demikian juara Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat. Meski tiga kali sempat lolos ke final tapi gelar juara selalu luput dari bidikan.
Jadi, hebat saja ternyata tak cukup untuk menjadi bekal sukses di All England. Keberuntungan tetap menjadi salah satu faktor yang terkadang dilupakan.
Komentar
-
supriyono Rabu, 11 April 2018 18:55:56 -
Ben Jufri Senin, 04 Desember 2017 14:29:07