Revolusi Tunggal Putri
Rabu, 12 Desember 2018 15:25:43
Majalahbulutangkis.com- Ketika Chen Yufei berhasil memenangkan gelar juara tunggal putri ajang bulutangkis BWF World Tour Super 750 Fuzhou China Open 2018 di Fuzhou, awal November lalu, fakta itu seperti memberi sinyal tunggal putri Negeri Tirai Bambu sudah kembali pada treknya.
Chen Yufei yang kelahiran 3 Januari 1988 atau berusia 20 tahun memang seperti menjadi simbol kebangkitan tunggal putri Tiongkok. Sebelumnya kejayaan tunggal putri sempat runtuh yang ditandai berakhirnya kiprah Li Xuerui di ajang Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Setelah itu tunggal putri dunia dikuasai oleh sejumlah nama seperti Carolina Marin (Spanyol), Tai Tzu Ying (Taiwan), Akane Yamaguchi (Jepang), serta Ratchanok Intanon (Thailand).
Runtuhnya kejayaan tunggal putri Tiongkok tidak hanya terjadi di perorangan, tapi imbasnya juga merembet ke event beregu. Ajang Piala Uber yang selama bertahun-tahun dikuasai tim putri Tiongkok mulai direbut oleh tim putri Jepang.
Namun, tidak butuh waktu lama tunggal putri Tiongkok segera melakukan revolusi. Yang menarik, yang pertama kali dibenahi adalah sektor kepelatihan yang ditandai dengan digusurnya pelatih kepala tunggal putri Zhang Ning selepas kegagalan tim putri Tiongkok di ajang Piala Uber 2018 lalu.
Padahal, Zhang Ning bukanlah figur sembarangan. Dua medali emas yang diraihnya di ajang Olimpiade 2004 Athena dan Olimpiade 2008 Beijing menjadi garansi yang tak terbantahkan tentang kualitas seorang Zhang Ning. Tapi, ketika ia gagal mengangkat prestasi tunggal putri timnas Tiongkok, Zhang Ning pun digusur dari kursi kepelatihan. Selepas ditinggal Zhang Ning, prestasi tunggal putri Tiongkok justru terus meningkat. Di belakang Chen Yufei yang kini duduk di peringkat 3 BWF, juga mengekor beberapa pemain yang siap menyusul seperti He Bingjiao (7 BWF), Gao Fangjie (13 BWF), serta Cai Yanyan (20 BWF).
Merefleksi apa yang dicapai tunggal putri Tiongkok memang seperti berbanding terbalik dengan para pemain tunggal putri Indonesia. Seperti katak dalam tempurung, PBSI seperti bingung untuk mencari solusi memecah kebuntuan prestasi di tunggal putri. Ironisnya, bibit pemain begitu melimpah, turnamen bulutangkis pun setiap pekan terselenggara di berbagai daerah. Waktu selama 52 pekan dalam setahun pun terasa kurang saking padatnya jadwal turnamen di tanah air.
Andai mau jujur, PBSI sejatinya memahami akar masalahnya. Namun, keberanian serta kemauan untuk melakukan revolusi saja yang belum terlihat. Lantas, mau sampai kapan?
Komentar
-
supriyono Rabu, 11 April 2018 18:55:56 -
Ben Jufri Senin, 04 Desember 2017 14:29:07