Alwi Farhan, Jawaban Sebuah Penantian

Rabu, 28 Januari 2026 08:41:44

 

Majalahbulutangkis.com- Ketika Alwi Farhan naik podium juara di ajang Daihatsu Indonesia Open 2026 di Istora Senayan Jakarta publik Indonesia akhirnya kembali bisa tersenyum. Jerih payah menggelar event BWF Super 500 berhadiah total 500.000 US dolar ini seolah terbayar lunas.

Memang ada pemandangan yang berbeda di gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026 dibanding beberapa tahun sebelumnya. Hingga 2025 lalu Istora Senayan terasa sunyi  dan lesu seiring dengan lesunya prestasi yang ditoreh para pemain Indonesia.

Tak heran ketika tahun lalu tak satu pun gelar bisa dimenangkan para wakil Indonesia publik pun merespon biasa saja. Publik seolah sudah terbiasa dengan kondisi bulutangkis Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.

Mencuatnya Alwi pun seperti jawaban atas penantian panjang. Tak kurang dari 10 tahun tunggal putra Indonesia seperti tak bisa lepas dari ketergantungan kepada duet Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Begitu kuatnya ketergantungan itu seperti melupakan bahwa Ginting yang kelahiran 1996 dan Jojo kelahiran 1997 adalah juga manusia biasa yang tak selamanya muda. Kapan dan dimana saja mereka tampil, mereka juga bisa kalah atau terkena cedera.

Generasi berikut di bawah Ginting dan Jojo bukannya tidak ada. Beberapa nama yang sempat muncul diantaranya Ikhsan Rumbay, Sabda Perkasa Belawa, Christian Adinata, Karono, Alvi Wijaya. Mereka adalah pemain-pemain yang rata-rata kelahiran tahun 2000 dan 2001.

Harapan besar sempat ditambatkan ke pundak Ikhsan ketika ia mampu berdiri sejajar dengan lawan-lawan seusianya seperti Kunlavut Vitidsarn (Thailand), Kodai Naraoka (Jepang), Leong Junhao (Malaysia),  Laksia Sen (India), Li Shifeng (China), atau Christo Popov (Prancis).

Namun seiring waktu satu per satu tunas-tunas muda itu berguguran. Minimnya jam terbang yang dimiliki Ikhsan membuatnya bak katak dalam tempurung. Bakat hebat Sabda pun sirna ketika ia dipanggil Yang Maha Kuasa di usia muda.

Christian Adinata tak kalah malang. Ia cedera lutut parah saat berhadapan dengan HS Pranooy (India) di semifinal pertamanya di turnamen level Super 500 di Malaysia Masters 2023. Istirahat panjang membuat momentum Christian Adinata hilang. Sementara untuk memulainya kembali tak mudah ketika posisinya sudah tak lagi di Cipayung.

Sementara Karono dan Alvi yang tak mampu bersaing akhirnya memilih ‘kabur’ ke negara lain yang dianggapnya mampu memberikan perhatian lebih. Ia pun berkumpul bersama Pramudya Kusumawardhana di Negeri Kanguru Australia.

Alhasil satu generasi tunggal putra Indonesia pun terputus. Suka tak suka, ketika tak memiliki pelapis di bawahnya Ginting dan Jojo harus siap bertarung melawan para pemain yang rata-rata 4-5 tahun lebih muda darinya.

Kini setelah 10 tahun menunggu, Alwi hadir seperti oase di padang pasir. Alwi tentu tidak tiba-tiba hadir sebagai juara. Ia sejatinya sudah memberi signal tatkala menjadi juara di ajang World Junior Championship 2023 di Spokane, AS, dengan mengalahkan Hu Zhe An dari China melalui rubber game, 21-19, 19-21, 21-14.

Pentas WJC memang tidak bisa dipungkiri seperti menjadi ajang audisi bagi para calon bintang bulutangkis masa depan. Mayoritas para pebulutangkis hebat dunia juga lebih dulu melalui fase keras di WJC seperti Viktor Axelsen (Denmark), Kento Momota (Jepang), Kunlavut Vitidsarn (Thailand), Chen Yufei (China), Akane Yamaguchi (Jepang) atau Ratchanok Intanon (Thailand).

Signal Alwi makin kuat tatkala ia naik podium pertamanya di ajang BWF Super 300 di turnamen Macau Open serta menutup musim 2025 dengan kalungan medali emas tunggal putra dengan mengalahkan rekan sendiri M.Zaki Ubadillah di pentas SEA Games 2025 di Thailand.

Yang melegakan Alwi tidak mentas seorang diri. Nyaris serupa cerita lima tahun lalu, gerbong ini pun membawa serombongan pemain dengan k

ualitas nyaris setara. Yang paling dekat Alwi adalah Zaki Ubaidillah. Pemain kelahiran Bangkalan tahun 2007 ini juga digadang-gadang bakal jadi pelapis kuat Alwi.

Dua tahun beruntun tampil di WJC prestasinya juga terbilang cemerlang. Di WJC 2024 di Nanchang (China) ia menempati posisi ketiga. Di WJC 2025 di Guwahati (India) naik level sebagai runner up. Namun di Kejuaraan Junior Asia 2025 ia sukses menjadi jawara.

Di belakang Alwi dan Ubed juga mengekor Muhamad Yusuf, Yohanes Saut Marcellyno, serta Prahdiska Bagas Sujiwo yang siap bakal membuat kubu tunggal putra Indonesia makin solid.

Mereka adalah generasi terbaru setelah kita kehilangan satu generasi di era Ikhsan Rumbay dkk lima tahun lalu. Tentu loncatan yang cukup jauh hampir 10 tahun setelah era keemasan Ginting dan Jojo.

Panggung untuk Ginting dan Jojo memang belum digulung. Bahkan dengan kemandiriannya kini Jojo masih tetap optimis mampu bertahan hingga pentas Olimpiade Los Angeles 2028 digelar. Ia memang masih ambisi besar untuk melengkapi medali emas Asian Games 2018 di Jakarta dengan medali emas Olimpiade 2028.

Tunas-tunas muda itu kini telah bermekaran. Namun menjaga Alwi dkk agar matang sempurna pada waktunya memang bukan hal mudah. Kehilangan satu generasi kemarin hendaknya jadi pelajaran mahal. Pembinaan yang berkelanjutan dan obyektif adalah kunci kesuksesan mereka di masa depan.

Syarat menjadi juara sejatinya ada tiga unsur. Pertama, pemainnya punya bakat kuat. Kedua, ditangani pelatih yang hebat. Ketiga, dukungan finansial untuk mengikuti setidaknya 20 turnamen dalam satu musim. Ketiga unsur tersebut sejauh ini sudah terpenuhi untuk menjadikan Alwi pada posisi saat ini.

Yang terpenting, jangan lagi ada tangan-tangan ‘jahil’ serta pikiran ‘jahat’ yang hanya berpikir sempit ‘ini anakku, itu bukan anakku’ yang bisa menimbulkan suasana tak kondusif dan meruntuhkan mental pemain.

Sebaliknya semua yang terlibat dalam pembinaan hendaknya berpikir nasionalis bahwa bulutangkis Indonesia bukan milik segelintir orang atau golongan. Yang ditunggu oleh publik adalah prestasi dan kalungan medali. Mereka tak pernah peduli beratnya proses yang harus dijalani setiap hari. (Daryadi)

Kredit Foto : Joko Prayitno