Mabar Djaruminton XIV di Tegal

Minggu, 03 Desember 2017 20:22:17

 

Forum PB Djarum kembali menggelar acara maen bareng (Mabar) yang berlangsung tanggal 25 November 2017. Setelah dilaksanakan di beberapa kota, kali ini kota Tegal, Jawa Tengah didaulat sebagai tuan rumah, tepatnya di GOR Wisanggeni, Tegal.
Kegiatan yang juga dikenal sebagai Mabar Djaruminton ini merupakan sarana bertemunya anggota forum situs PB Djarum, dimana para anggota lebih banyak berinteraksi lewat dunia maya.
Demi kecintaannya terhadap bulutangkis, para anggota forum berdatangan dari berbagai kota dengan mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi yang tidak sedikit. Namun mereka datang bukan hanya sekadar Mabar (Maen Bareng), tetapi menjadikannya sebagai ajang silaturahmi, saling mengenal dan saling berdiskusi. Para peserta berdatangan dari berbagai kota terutama dari pulau Jawa seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Batang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan tuan rumah Tegal.
Mabar Djaruminton Tegal ini merupakan yang ke-14 kalinya sejak tahun 2010. Sebelumnya Mabar I dilaksanakan di GOR PB Djarum Petamburan, Jakarta tanggal 6 Februari 2010. Berturut-turut dilangsungkan Mabar II Jakarta (GOR Djarum Petamburan, 10 Juni 2010), Mabar III Bandung (GOR Bikasoga, 9 Maret 2011),  Mabar IV Surabaya (GOR Sudirman, 12 November 2011), Mabar V Yogyakarta (GOR Among Rogo, 3 Maret 2012), Mabar VI Bandung (GOR Lodaya, 23 Juni 2012), Mabar VII Kudus (GOR Jati, 17 November 2012), Mabar VIII Tasikmalaya (GOR Lidya Djaelawidjaja, 23 Maret 2013), Mabar IX Cirebon (GOR Arena, 23 November 2013), Mabar X Solo (GOR Manahan, 1 Maret 2014 ) dan Mabar XI Purwokerto (GOR Satria, 20 Desember 2014), Mabar XII Magelang (GOR Djarum, 28 November 2015) dan Mabar XIII Lampung (14 Agustus 2016).
Antusiasme peserta Mabar XIV Tegal ini sudah terlihat dari saat pendaftaran di forum. Hanya dalam waktu tiga hari, kouta peserta sudah langsung penuh. Ada beberapa anggota forum yang terlambat mendaftar, tidak bisa mengikuti Mabar kali ini. Penyelenggaraan Mabar XII di Tegal bukan tanpa alasan. Kota ini berada jalur pantura pulau Jawa ini memudahkan bagi anggota forum yang berada dari Barat dan Timur pulau.
Para peserta Mabar dibagi dalam empat grup berdasarkan kelompok umur. Grup Bitingan Lama menjadi kelompok paling senior. Di grup ini berkumpul  peserta lebih dari umur 45 tahun. Grup Kaliputu memainkan kelompok umur 39-45 tahun. Di grup Petamburan tempat berkumpulnya peserta yang memiliki umur dengan rentang 30-38. Sementara grup Jati merupakan kelompok pemain muda yang memiliki umur di bawah 38 tahun. Peserta termuda di grup Jati, berusia 14 tahun.
Setiap kelompok umur diikuti oleh 32 peserta. Para peserta tersebut kemudian diundi untuk mendapatkan pasangan. Sistem pengundian pasangan ini agar semua peserta berbaur dan saling mengenal. Pertandingan pun semakin menarik karena dengan sistem undian pasangan maka kekuatan masing-masing pasangan menjadi sulit diterka. Peserta wanita tidak dibedakan dalam Mabar ini.
“Ini tantangan tersendiri bagi saya sebagai peserta putri. Walaupun kami sebagai ganda campuran harus bertanding dengan pasangan ganda putra, tapi saya tetap semangat. Mudah-mudah di Mabar yang akan datang banyak peserta putri yang hadir,” tutur peserta bernama Dwita. Mahasiswi jurusan administrasi bisnis STIAMI Jakarta ini, akhirnya mampu menembus babak final di kelompoknya.
Uniknya Dwita tidak datang sendiri, ia hadir bersama adik dan ayahnya. Bahkan Dwita yang berpasangan dengan peserta putra Anggit W berhadapan dengan adiknya sendiri Dimas yang berpasangan dengan Michael. Dwita/Anggit menjadi runner up setelah kalah di final dari Dimas/Michael.
“Susah melawan adik laki-laki, selain powernya lebih kuat, dari segi teknik juga lebih bagus,” ungkap Dwita
Sang ayah Abu KMS juga tidak kalah berprestasi dari kedua anaknya. Abu KMS yang berpasangan dengan Maspur berhasil menjadi juara grup Bitingan Lama. Satu keluarga pun sukses membawa pulang tiga piala.
“Sebenarnya ibu yang juga ikut menemani, sempat ingin main. Tetapi tidak jadi karena dilarang ayah,” ujar Dwita
Acara Mabar ini semakin lengkap dengan diselingi acara coaching clinic dari para legenda bulutangkis Indonesia dan pelatih PB Djarum. Nama-nama yang hadir adalah Christian Hadinata, Lius Pongoh, Sigit Budiarto, Puri Setyo Prihngudiarto, Rendra Wijaya, Simbarsono, Ronald Sanduan Sipasulta, Simon Santoso, Meiliana Jauhari dan Reny Ardhianingrum.
Para legenda dan pelatih PB Djarum ini membagi pengalaman dan teknik bermain bulutangkis kepada para peserta. Sedangkan Reny Ardhianingrum sebagai pelatih fisik, mengajarkan cara peregangan dan pemanasan yang benar sebelum bertanding.
Acara Mabar ini dilengkapi juga dengan sesi ekshibisi. Rendra Wijaya berpasangan dengan Simon Santoso menghadapi peserta Mabar pasangan Gatot/Lutfi yang berasal dari Batang dan Bandung.  Ekshibisi kedua menampilkan Tri Kusharjanto/Ronald Sanduan berhadapan dengan peserta Mabar pasangan Ian Horison/Bagus dari Jakarta dan Tegal.
Acara ekshibisi semakin meriah ketika Sigit Budiarto memasuki lapangan yang menyebabkan formasi Tri Kusharjanto/Sigit Budiarto melawan tiga orang yang terdiri dari Ian Horison, Bagus ditambah dengan Ronald Sanduan. Tri/Sigit mengeluarkan pukulan-pukulan aneh seperti yang pernah mereka tunjukkan pada masa jayanya. Tidak heran walaupun menghadapi tiga orang, Tri/Sigit tetap memenangkan pertandingan.
Sesi acara yang dinantikan selalu peserta adalah acara penutup. Peserta disuguhi acara kuliner khas kota tempat pelaksanaan Mabar. Makanan khas Tegal s disajikan kepada peserta yang lelah bertanding sehari penuh.
“Ini yang saya tunggu. Main boleh kalah, tapi makan barengnya harus ikut. Soalnya makanannya khas,” ujar salah satu peserta bernama Tora. Menurutnya, rangkaian acara Mabar ini berbeda dengan Mabar-Mabar lainnya. Ini bukan sekadar Mabar biasa. (Hendri Anhar)
 

« Back to News